Selawe

Dalam bahasa Jawa dan Sunda, selawe berarti dua puluh lima. Kata ini dalam bahasa sehari-hari sering digunakan untuk menjelaskan tentang penyebutan nominal uang (ketimbang menyebutnya dua puluh lima ribu).

Di suatu pagi ketika saya sedang berkunjung ke kandang luwak kepunyaan salah satu pengusaha kopi luwak di kawasan perbukitan Bandung, saya meminta bantuan kepada salah satu pekerja kandang untuk membelikan bahan makanan agar saya dapat memasak makanan selama saya berada di sana. Secara sengaja saya memberikan uang lebih agar uang sisa belanja bisa saya berikan kepadanya, sesederhana karena ingin berbagi rejeki yang walaupun tidak seberapa.

Singkat cerita, pulanglah pekerja tadi dari warung dengan membawa telor, tahu, tempe, beras dan kerupuk. Diapun memberikan uang sisa belanja, kurang lebih dua puluh lima ribu. Sesuai dengan niatan saya di awal, uang kembalian tersebut saya berikan kepada pekerja tersebut. Saya pikir uang sejumlah itu cukup untuk jajan orang yang baru saja dikaruniai seorang putri.

Namun, alih-alih menerimanya dengan biasa saja (seperti yang sering saya temukan kalau memberi uang tip kepada orang-orang di kota), dia menerimanya dengan kaget dan terlihat sungkan.

“Ah, Teteh, ulah sakieu atuh. seeur teuing (Ah, Teteh, jangan segini ngasihnya. Banyak sekali (nominalnya))”, katanya. Walaupun pada akhirnya dia menerima uang itu setelah saya paksa.

Siang harinya ketika kita sedang beristirahat dari kegiatan masing-masing, terjadilah obrolan di antara kami berdua.

Sang Pekerja: “iya, Teh. Saya sepulang dari sini (kandang) masih kerja di kebun orang, dari sore (sekitar jam 16.00) sampai jam sepuluh malam.”

Saya: “Oia? Diupahnya berapa per hari?”

Pekerja: “tiga puluh ribu, Teh.”

Ya, bagi saya yang sehari-hari berpenghidupan di kota, nominal dua puluh lima ribu kurang lebih hanya satu kali makan di mall (bahkan kurang), atau hanya sejumlah ongkos saya sekali jalan dari rumah menuju kantor, bahkan tidak cukup untuk membeli dua bungkus Sampoerna (satu bungkusnya seharga sembilan belas ribu). Tapi bagi si Pekerja dan orang-orang lain yang tinggal di desa, nominal dua puluh lima ribu hampir menyamai upah mereka bekerja per hari (bahkan di daerah Kareumbi upah harian buruh di sana sekitar dua puluh tiga ribu rupiah).

Ya, bagi sebagian orang dua puluh lima ribu seringkali terasa tak berarti, namun bagi sebagian yang lain dua puluh lima ribu adalah hidupnya sehari.


Mendayung Kenangan di Sisa Hutan Mangrove Pondok Bali

DSCN8153

Photo credit: Priyo L. Utomo (KayakNusa)

Tagline: #SeaKayak #MangroveKayakTour #Ecotourism #KayakNusa

 

Kala Sabtu 6 Maret 2016, cuaca mendung sepanjang hari di langit Dago, Bandung. Dan benar saja, sesaat sebelum kami menumpang mobil Kijang merah milik Mas Priyo, pemilik KayakNusa, gerimispun turun. Sesuai kesepakatan kami sebelumnya, Beliau sudah menunggu di pinggir jalan Dago. Sore itu kami hendak beranjak ke Pantai Pondok Bali, Desa Mayangan, Pamanukan, Jawa Barat, untuk mencicipi keindahan  hutan mangrove. Sekitar pukul 15.00 kami bertemu di titik pertemuan dan meluncur menuju utara via Subang.

Perjalanan kali ini sebetulnya adalah agenda dadakan setelah kawan saya yang juga anggota Wanadri, Asa, mengajak saya untuk menghabiskan akhir pekan dengan suasana baru, mendayung kayak. Tawaran yang menarik sehingga tak butuh pikir panjang sayapun menerima ajakan itu.

Mobil Kijang merah rakitan tahun 1995 yang masih cukup bertenaga itu mengangkut dua kayak laut di atasnya. Sepanjang jalan lagu bergenre lawas ala koboi Mississippi koleksi Mas Priyo melantun menemani kami meluncur santai di jalanan hujan berkabut Lembang-Subang-Pamanukan-Pantura. Namun rupanya perjalanan kami teramat santai sehingga perjalanan sekitar 100 km itu ditempuh dalam waktu sekitar enam jam, yang biasanya hanya memakan waktu 2.5 jam. Hal ini dapat dimaklumi karena selain membawa beban yang cukup berat, jalanan di sisa perjalan menuju pantai Pondok Bali rusak. Sekitar pukul 20.00 kami sampai di Pamanukan kota dan bersantap malam di salah satu rumah makan padang di pinggir jalan. Setelah berehat sejenak kami melanjutkan perjalanan ke titik akhir di Pantai Pondok Bali, Pamanukan. Sekitar 1.5 jam kemudian kami sampai dan menurunkan kayak dari atas mobil dan memompa satu kayak lainnya.

Pompa

Mempompa kayak di sisa malam

 

Setelah selesai memompa kayak, kami mempersiapkan lapak tidur kami di warung semi permanen milik Pak Rosita, kenalan dua rekan ini, yang lokasinya berjarak sekitar 50 m dari bibir pantai. Sekitar pukul 23.00 kamipun sudah tergeletak berjejer seperti ikan asin di bale-bale semen di salah satu pojok warung.

Hari Minggunya…

Pukul 05.00. Alarm telepon genggam berbunyi. Saya menjadi manusia pertama yang terbangun di antara kami bertiga. Namun rupanya Bu Imas, istri Pak Rosita sudah lebih dulu terjaga untuk menyiapkan makan pagi kami yang malam sebelumnya sudah kami pesan. Tak berapa lama kemudian Mas Priyo terbangun, disusul oleh Asa. Kami pun bersiap-siap dan mengecek kembali perbekalan untuk mendayung nanti. Kayak dan dayungnya (tentu saja), air minum, tak lupa tabir surya agar kulit tidak terbakar, pompa air dan sponge untuk mengeringkan kayak jika kemasukan air, kamera, GPS tangan, dan bekal makanan kami masukkan ke dalam kayak. Kayak yang dibawa oleh Mas Priyo adalah tipe kayak laut dengan dimensi panjang 420 cm dan berat 22 kg, sedangkan kayak tiupnya berdimensi panjang 335 cm dan berat 15 kg. Kali ini saya dan Mas Priyo kebagian mengendarai kayak merah sedangkan Asa mengendrai kayak tiup.

Persiapan

Persiapan berkayak laut

Setelah mengisi perut dengan sarapan udang goreng (menu yang cukup berat di pagi hari), petualangan kami dimulai pada pukul 07.00. Mas Priyo memberikan pengarahan untuk mengendarai kayak dengan cara yang benar. Walaupun saya sudah punya pengalaman mengendarai kayak tipe sit on top, namun saya tetap harus membiasakan diri dengan kayak tipe laut ini (sea kayak). Saya mencobanya di kolam yang terbentuk di belakang pemecah gelombang selama beberapa saat, mencoba menginjak kemudi (ini bagian yang asyik sekali karena alih-alih mengayuh berkali-kali di satu sisi untuk mengatur haluan saya hanya perlu menginjak pedal kemudi. Sangat hemat tenaga). Setelah terbiasa, kami memulai perjalanan menyusuri bibir hutan mangrove ke arah barat.

Menurut penuturan Asa, daerah yang kami lewati itu dahulunya adalah hutan mangrove lebat, namun oleh masyarakat sekitar pohonnya ditebang untuk dijadikan bahan bangunan atau kayu bakar dan lahannya dialihfungsikan menjadi tambak udang. Dulu juga daerah ini merupakan habitat monyet, burung pantai, babi hutan bahkan rusa. Daerah ini tadinya adalah objek wisata pantai berpasir yang cukup terkenal di tahun 80-an, namun sekarang hanya menyisakan lumpur dan abrasi pantai. Sesuatu yang sangat disayangkan.

Abrasi

Daerah yang terabrasi

 

Untung saja masih tersisa beberapa titik hutan yang masih terjaga. Di situlah kami menjelajah, mencari yang masih tersisa.

DSCN8123

Mendayung menyisir hutan mangrove

Ini adalah pengalaman pertama saya menjelajah hutan mangrove. Awalnya saya pikir ekosistem mangrove adalah daerah yang mencekam, banyak buaya, ular, dan hal-hal menyeramkan lainnya. Namun saya salah total. Kesenyapan yang ditawarkan oleh hutan mangrove justru membawa ketenangan. Kicauan burung, keheningan yang jarang sekali saya dapatkan ketika sehari-hari berada di kota, dan berbagai hal mendamaikan lainnya. Keletihan setelah berjam-jam mendayung diganjar setimpal dengan keindahan yang disajikan.

DSCN8107

Rehat sejenak di daratan berpasir di sela-sela hutan mangrove

Sepanjang jalan tak melulu kami harus mendayung. Karena saat kami menjelajah sesekali kami melewati daratan berpasir di sela-sela hutan dan di sanalah kami beristirahat sejenak sambil mengunyah bekal makanan yang kami bawa.

DSCN8081.JPG

Go paddling go!

DSCN8094.JPG

Menuju hutan mangrove dikala surut

Setelah menyusur pinggir hutan, kami memutuskan untuk memasuki labirin hutan mangrove melalui mulut sungai dengan bermodalkan GPS agar tidak tersesat. Saat itu sedang surut, sehingga banyak sampah dari pemukiman yang terbawa arus. Airpun mengalir deras berlawanan dengan arah kami mendayung. Untuk kayak yang saya dan Mas Priyo kendarai hal ini tidaklah menjadi persoalan karena kayak kami didisain streamline sehingga walaupun kami melawan arus kayak kami tidak akan terdorong arus, bahkan diam. Namun beda halnya dengan kayak tiup yang digunakan Asa. Dia harus berjuang ekstra keras untuk maju melawan arus. Sedikit saja dia tidak mendayung kayaknya langsung terbawa arus.

DSCN8192

Di dalam lorong mangrove bekas pematang tambak udang

Lebih jauh ke arah hulu sampah tak lagi terlihat dan aruspun semakin tenang. Asa pun tak lagi kewalahan menghadapi arus yang menyerangnya bertubi-tubi di mulut sungai tadi. Pemandangan di dalam labirin mangrove begitu memesona. Kami seperti berada di dunia lain. Bunyi capit kepiting yang saling bersahutan membuat suasana semakin asing namun menghanyutkan.

Setelah puas menikmati keindahan alam mangrove di Pantai Bali, kami memutuskan untuk kembali pulang karena waktu juga telah menunjukkan pukul 13.00.

Sesekali kami menemukan riak gelombang pecah dan mengadu diri dengannya. Karena saya belum terlatih menghadapi gelombang pecah yang keberadaannya berada di kedalaman air yang dangkal, kayak sayapun sering kandas dan terbawa arus gelombang pecah. Susah payah saya berusaha keluar dari pusaran sejajar pantai itu namun akhirnya saya berhasil (kalau tidak akan ditinggalkan oleh rombongan. Hahaha).

Waktu menunjukkan pukul 14.00 lewat dan akhirnya kami sampai kembali di titik keberangkatan kami. Panasnya mentari membuat kami merindukan air kelapa muda murni. Sembari Asa dan Mas Priyo membersihkan kayak, saya langsung menuju warung Bu Imas. Dan benar, di warung Bu Imas terdapat rak berisi kelapa muda siap olah. Seakan tak sabar untuk mereguk kenikmatannya, sayapun berinisiatif mengambil parang dan membelah salah satu kelapa muda itu. Tak butuh waktu lama walau dengan ayunan golok yang belum luwes, saya berhasil membelahnya dan langsung meminum airnya. Terasa sangat manis!

Untuk menu makan siang, kami memesan ikan ayam-ayam dan ikan kakap merah bakar. Disantap dengan sambal kecap nan kaya rasa, kamipun bak orang kesetanan melahap habis isi piring.

Setelah mandi dan bersih-bersih kamipun bersiap pulang. Pengalaman tak terlupakan di Pantai Pondok Bali dengan mangrove yang masih tersisa di Jawa Barat, yang semoga tetap terjaga dan tetap bisa dinikmati bagi anak cucu nanti, tidak hanya sekedar menjadi kenangan manis.

DSCN8253.JPG

Itadakimasu!


Minta Maaf

Pernah meminta maaf? Seperti apa rasanya?

Hari ini saya berhasil berdamai dengan ego saya ketika saya meminta maaf. Mungkin itu adalah hal sepele bagi anda, namun hal itu merupakan hal besar bagi saya. Hari ini saya mendapatkan pelajaran nyata berharga tentang berbesar hati.

Pagi ini seperti biasa saya bangun sekitar pukul 6.30, memeriksa telepon selular apakah ada pesan baru yang masuk, meregangkan tubuh, sikat gigi, minum 1 liter air, dan melakukan ‘ritual pagi’ meyapa toilet. Tak lama berselang alarm ponsel saya berbunyi mengingatkan untuk meminta lidah buaya di rumah orang yang tiap hari saya lewati. Bersiaplah saya untuk mengayuh Jenggo (sepeda saya) ke luar, namun ternyata saya dipanggil oleh kakak yang bekerja di perusahaan minyak di Kalimantan yang kebetulan sedang berada di Jakarta. Dan terjadilah ‘diskusi satu arah’ tentang rencana saya ke depan.

“Ah, pasti akan tejadi hal yang menyebalkan”, demikian pikir saya.

Secara otomatis otak saya melakukan resistensi terhadap omongan-omongan si Kakak. Dia mempertanyakan perihal rencana saya ke depan di Natuna, bagaimana dengan pembiayaan operasional hidup saya sehari-hari, rencana bikin warung kopi, dll. Ya tujuannya pasti baik dengan mengarahkan saya agar tidak menggampangkan urusan permodalan. Namun seringkali ‘diskusi’ kami berakhir dengan tidak baik karena tipikal seorang kakak di keluarga feodal, saya yang tidak ingin ditindas oleh senioritas, masing-masing mempertahankan egonya, semua merasa paling benar, dan demikianlah akhir ‘diskusi’ kami sembari meninggalkan tempat diskusi. Saya tahu apa yang saya lakukan, urus urusanmu sendiri. Segera saya meluncur ke tempat lidah buaya untuk meredakan emosi yang akhirnya saya mengurungkan niat untuk memintanya.

Sesampainya saya kembali ke rumah saya teringat belum menyapa Tuhan. Duduklah saya dengan posisi bersila, menarik napas panjang berkali-kali dan merasakan ketegangan di punggung. Rupanya menahan emosi bisa menyebabkan sakit punggung. Pelajaran baru lagi bagi saya, karena biasanya ketika saya emosi saya meluapkan kekesalan dengan teriak, mencaci maki, dan tak jarang juga menangis. Namun kali ini saya ingat kalau saya punya Tuhan, tempat saya mengadu. Tidak ada tempat lain yang paling pas kecuali Dia. Berangsur sakit punggung saya perlahan mereda, dan terbersit di pikiran untuk meminta maaf kepada sang kakak. Bagi saya yang seorang penjunjung tinggi egoisme, hal itu seperti: Wow, gue? minta maaf? Ga salah?

Namun saya berpikir kembali, apa salahnya minta maaf? Toh saya belum pernah bereksperimen menurunkan ego saya untuk minta maaf, apalagi ke kakak saya yang satu ini, yang sedari dulu saya anggap rival.  Setelah saya selesaikan berdoa, saya tersenyum, membuka pintu kamar lalu turun ke tempat kakak saya berada. Saya colek dia seraya berkata: “Halo, sorry ya kalau tadi melengos. Ada yang pengen diomongin lagi?”, sambil masih tetap tersenyum. Ajaibnya ternyata dia juga meminta maaf karena telah salah bertutur. Akhirnya kami melanjutkan diskusi yang benar-benar diskusi, dan saya jadi lebih tercerahkan tentang urusan saya di Natuna nanti.

Meminta maaf sama sekali tidak akan membuat dirimu menjadi hina, melainkan kelegaan hatilah yang kau dapatkan. Pada akhirnya kaulah pemenang sejati. 


Dunia Penuh Bunyi

Seminggu lalu saya berkesempatan untuk menyelami keseharian manusia-manusia ajaib nan luar biasa di sekolah mereka SLBN B Cicendo, Bandung. Kali ini saya berterimakasih kepada kopi dan seluk-beluknya yang berjasa dalam mempertemukan kami.

Pada Selasa pagi sekitar pukul 09.00 saya sampai di sekolah itu, disuguhi segelas cappuccino panas oleh seorang barista handal bernama Elco. Dia adalah lulusan sekolah ini yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan barista profesional. Pelatihan barista ini sendiri merupakan salah satu program ekstrakulikuler yang diadakan oleh sekolah tersebut, selain ada juga ekskul tataboga, membatik, computer dan juga otomotif.

Para murid memerhatikan dengan seksama

Para murid memerhatikan dengan seksama

Sesi pertama pelatihan hari itu adalah pengenalan kopi secara umum, dari proses pengolahan biji kopi dari mulai panen sampai penyangraian, membedakan arabika dan robusta dari bentuk dan aroma dan lain-lain. Tak lupa ada guru sekolah yang menerjemahkan bahasa verbal sang pengajar kopi yang tidak punya latar belakang berbahasa isyarat. Sepanjang kelas berlangsung , 20 siswa pelatihan seluruhnya memerhatikan dengan seksama. Tidak ada yang saya lihat mengantuk. Luar biasa.

Berbahasa isyarat

Berbahasa isyarat

Mana arabika, mana robusta?

Mana arabika, mana robusta?

Pada hari berikutnya kelas dibagi dua dengan masing-masing kelas berisikan 10 orang. Kelompok pertama mengisi kelas kopi dan kelompok yang satu di kelas tataboga di ruangan sebelahnya. Selepas istirahat makan siang kelompok ini bertukar tempat untuk mendapatkan materi yang telah diajarkan ke kelompok sebelumnya.

Mereka belajar dari pengenalan alat-alat café, administrasinya, sampai ke pembukuan. Dan yang pasti belajar menjadi barista handal. Segala hal dasar dipelajari, dari mulai memakan biji kopi, menjaga kebersihan alat kerja, membuat dan mencicipi espresso, menyeduh kopi dengan berbagai metode, membuat berbagai macam menu kopi, dll. Mereka pun tak ragu untuk berkreasi menciptakan menu versi mereka sendiri.

Para pengajar harus mengajar dengan tempo yang cukup pelan dan tentu saja harus ekspresif

Para pengajar harus mengajar dengan tempo yang cukup pelan dan tentu saja harus ekspresif

Pengajar menuliskan cara pelafalan bahasa Inggris

Pengajar menuliskan cara pelafalan bahasa Inggris

Para penyusup dari kelas tataboga yang sudah tidak sabar ingin mengikuti kelas kopi di jam pelajaran berikutnya

Para penyusup dari kelas tataboga yang sudah tidak sabar ingin mengikuti kelas kopi di jam pelajaran berikutnya

Sejak hari pertama saya telah dibuat terkesima oleh mereka, gaya mereka berkomunikasi, keluguan  mereka, keramahtamahan, keinginan mereka untuk belajar, kemampuan mereka dalam membuat dan merasakan kopi, dan lain-lain. Tak lupa juga saya diajari mereka bagaimana berbahasa isyarat.

Di tengah keterbatasan mereka, mereka telah sukses menjadi guru bagi saya. Mereka memang cacat, namun mereka tidak lemah. Mereka tetap bisa berkegiatan normal seperti kita, bahkan lebih. Terkadang lingkungan mereka sendirilah yang terlebih dulu menganggap remeh kemampuan mereka sehingga kemampuan mereka terkurung dalam ketakutan dan malu mencoba.

IMG_6250_


Malu jadi Manusia

Kali ini saya menangis. Menangis melihat keserakahan manusia yang dengan gampangnya merusak alam tanpa sama sekali tebersit rasa bersalah. Tak acuh melihat hewan dan tumbuhan yang memunah. Betapa kita telah sangat kurang ajar terhadap alam seakan tidak sadar bahwa kita teramat bergantung padanya. Malu saya menjadi manusia.

keruk buminya, hancurkan hutannya, nikmati musibahnya

keruk buminya, hancurkan hutannya, nikmati musibahnya


Massage Bina Netra Wyata Guna Pajajaran Bandung

Kemarin saya berkesempatan untuk dipijat di massage bina netra Wyata Guna di Jalan Pajajaran Bandung. Sebelumnya saya sudah pernah dua atau tiga kali datang ke tempat ini. Menurut saya pelayanannya cukup baik dengan harga yang cukup terjangkau, IDR 37,500/jam. Lokasinya persis berseberangan dengan GOR Pajajaran sehingga tidak sulit untuk menemukannya. Terlebih di depan gedungnya terdapat tulisan “massage”. Sebetulnya di samping gedung massage itu ada juga praktek shiatsu namun saya belum pernah mencobanya. Mungkin jikalau anda berminat bisa mencobanya.

 Image

 

Lokasi praktek pijat ini berada di lantai dua. Untuk mencapai lokasi ini anda terlebih dulu diharuskan melepas alas kaki. Sesampainya di atas terdapat meja resepsionis dan ruang tunggu yang cukup lapang. Terdapat ruangan yang terpisah untuk pijat pria dan wanita. Setelah mendaftar di resepsionis anda dipersilahkan menunggu sebentar untuk mereka menyiapkan tempat dan therapistnya.

 Image

 

Setelah menunggu beberapa saat saja, saya diarahkan ke ruang pijatnya. Ruang pijat yang berukuran kurang lebih 2x3m itu cukup nyaman dan bersih. Tak berapa lama therapistnya datang dan saya segera menikmati pijatannya selama kurang lebih 1 jam.

 Image

 

Demikian review dari saya. Semoga bermanfaat. 


Produk Gagal

Dalam setiap produksi massal pasti ada yang namanya produk gagal atau barang reject. Tinggal gimana si produsen memanfaatkan barang reject-an tersebut, apakah diberdayakan untuk jadi benda lain, didaur ulang, atau hanya berakhir di tempat sampah.